Sejarah Singkat Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, Dari Bangunan Berbentuk Langgar

sejarah berdirinya Masjid Jami oleh Sultan Syarif Abdurrahman berawal dari bangunan berbentuk langgar

Editor: Maskartini
Tribun Pontianak/Destriadi Yunas Jumasani
Warga mengunakan sampan melintas di Sungai Kapuas dengan latar belakang Masjid Jami Kesultanan Kadriah, Pontianak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu. Masjid yang berpengaruh dalam sejarah Kota Pontianak ini perlu dijaga keberadaannya.Warga mengunakan sampan melintas di Sungai Kapuas dengan latar belakang Masjid Jami Kesultanan Kadriah, Pontianak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu. Masjid yang berpengaruh dalam sejarah Kota Pontianak ini perlu dijaga keberadaannya. (Tribun Pontianak/Destriadi Yunas Jumasani). 

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemkot Pontianak bergerak cepat menyelamatkan aset-aset budaya yang ada. 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak telah menyusun proposal dan mendaftarkan pengajuan yang Arsitektur Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai warisan budaya tak benda,

Pengajuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini dilengkapi data masjid yang didirikan pada tahun 1.771 masehi ini.

Pengajuan ini dilakukan agar arsitektur cagar budaya yang menjadi saksi berdirinya Kota Pontianak ini tidak diklaim oleh pihak maupun daerah lain.

Berdasarkan data sejarah Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalbar, sejarah berdirinya Masjid Jami oleh Sultan Syarif Abdurrahman berawal dari bangunan berbentuk langgar.

Dari awalnya yang berbentuk langgar, kemudian dipugar oleh Sultan Syarif Usman tahun 1821 menjadi surau yang lebih megah dari semula dengan atap tiga tingkat dan empat penopang struktur atap yang disebut soko guru.

Baca juga: Mengenal Budaya Makan Saprahan, Biasa Dilombakan Saat Hari Ulang Tahun Kota Pontianak

Kemudian pada kepemimpinan Sultan Syarif Muhammad pada tahun 1872, direnovasi kembali dengan memperluas sisi barat dan ditambah tiang soko guru sebanyak dua tiang, hingga total menjadi enam tiang dan bagian atap, ditambah satu tingkat, hingga menjadi total empat tingkat.

Secara arsitektur, Masjid Jami ini dipengaruhi setidaknya tiga jenis arsitektur, yakni arsitektur lokal Kalimantan, arsitektur Jawa, arsitektur timur tengah, dan arsitektur kolonial yang ditandai bentuk tympanium serta kaca warna warni.

Selain itu, arsitektur Masjid Jami Pontianak juga dibangun syarat akan makna filosofis, yakni empat tingkat atap, serta empat menara kecil yang melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad, yaitu Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Talib.

Sementara itu, tiang soko guru sebanyak enam buah melambangkan sifat keimanan atau rukun iman sebanyak enam buah.

Penggunaan warna kuning serta ornamen mahkota pada puncak mengandung syarat makna keagungan sebagai tempat yang suci dan agung.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Arsitektur Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak Diajukan sebagai Warisan Budaya tak Benda

Ikuti kami di
KOMENTAR
2280 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved