Mengenal Budaya Makan Saprahan, Biasa Dilombakan Saat Hari Ulang Tahun Kota Pontianak

Saprahan adalah budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan bersila di atas lantai secara berkelompok

Editor: Maskartini
(Tribun Pontianak/Destriadi Yunas Jumasani)
Makan Saprahan di Pontianak Convention Center yang digelar setiap tahunnya bertepatan dengan hari jadi Kota Pontianak. (Tribun Pontianak/Destriadi Yunas Jumasani) 

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Makan Saprahan merupakan adat istiadat budaya Melayu. Berasal dari kata "Saprah" yang artinya berhampar.

Saprahan adalah budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.

Saat makan saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah.

Peralatan dan perlengkapannya mencakup kain saprahan, piring makan, kobokan beserta kain serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu makanan diantaranya, nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya.

Minuman yang disajikan adalah air serbat berwarna merah. Makan saprahan biasanya diperlombakan pada Ulang Tahun Kota Pontianak.

Baca juga: Apa Itu Tradisi Makan Saprahan di Pontianak?

Pada momen ini, Hidangan saprahan tersaji di atas lantai beralaskan permadani di Gedung Pontianak Convention Center (PCC), Kalimantan Barat.

Setiap tahunnya sekitar 30 kelompok peserta dari kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) se-Kota Pontianak menampilkan hidangan saprahan dalam Lomba Inovasi Saprahan dalam rangka Hari Jadi Kota Pontianak.

Saprahan Adat Melayu Kalbar
Saprahan Adat Melayu Kalbar (Tribun Pontianak)

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menjelaskan, saprahan merupakan satu diantara yang telah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda.

Termasuk pula arakan pengantin, paceri nanas, meriam karbit dan lainnya. Ia berharap Pontianak menjadi salah satu kota budaya yang harus terus ditingkatkan inovasi dan kreativitasnya.

Saat ini, banyak juga rumah makan dan restoran yang menghidangkan makan saprahan. Edi menekankan bagaimana pada saat makan bersama itu memiliki nilai atau filosofi dan kearifan lokal yang memberikan nilai positif bagi semua.

 

 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved