Terindentifikasi Pertama Kali di Jepang, Ini 4 Fakta Mutasi Varian R.1

varian R.1 telah menginfeksi penghuni dan staf di panti jompo Kentucky

Editor: Maskartini
Tribun Pontianak
Ilustrasi virus Corona. Terindentifikasi Pertama Kali di Jepang, Ini 4 Fakta Mutasi Varian R.1 

Varian R.1 dapat memengaruhi orang secara berbeda dari virus versi asli, tapi tidak selalu menimbulkan kekhawatiran.

Kecil kemungkinan varian ini menyalip varian Delta, sebagai mutasi virus corona terparah.

Varian ini berpotensi menginfeksi lebih banyak orang yang telah divaksinasi.

Varian Delta Plus Ada di Indonesia, Ini Penjelasan Eijkman

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menyampaikan perkembangan terkini mengenai jenis varian baru Covid-19 yang ditemukan di Indonesia.

Varian baru virus corona yang ditemukan yakni varian Delta plus atau B.1.617.2.1.

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Subandrio mengatakan, sampai saat ini, varian Delta plus ditemukan di dua daerah.

"Perkembangannya masih seperti yang kemarin diberitakan, ada tiga kasus di dua daerah, yang satu di Mamuju sama Jambi," kata dia saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis 29 Juli 2021.

Secara umum, Amin menyebut, varian Delta plus tidak jauh berbeda dengan varian Delta yang pertama kali ditemukan di India.

Namun, pihaknya belum memiliki bukti yang cukup untuk menyimpulkan apakah varian Delta plus lebih berbahaya atau mematikan daripada varian lainnya.

"Ya walaupun WHO menyatakan lebih berbahaya dan sebagainya, tapi di Indonesia, kami belum punya data yang menunjukkan bahwa varian Delta Plus menyebabkan misalnya morbiditasnya lebih tinggi atau mortalitasnya lebih tinggi, itu belum ada buktinya," ujarnya.

"Belum terbukti apakah itu lebih berat atau lebih mematikan, lebih menular sih mungkin ya kalau melihat peningkatan jumlah kasus belakangan ini," imbuh dia.

Gejala menonjol, diare
Menurut Amin, gejala varian Delta plus pun hampir sama seperti varian Delta atau varian lainnya.

Hanya saja, yang membedakan penderita juga akan mengalami diare.

"Yang lebih menonjol ada diarenya, tapi diare itu tidak terus-terusan juga, kadang-kadang saja, kemudian gejala pilek. Tapi apakah kemudian menimbulkan gejala klinis yang lebih berat, belum didukung bukti yang kuat karena banyak kasus varian Delta tapi gejalanya ringan, kasus yang berat sebaliknya buka karena varian Delta," ucap dia.

Kemudian, apakah varian Delta plus ini akan mendominasi kasus di Indonesia, Amin belum bisa memastikan hal itu karena perlu dilihat terlebih dahulu kecenderungannya.

Saat ini, lanjut Amin, secara keseluruhan kasus Covid-19 yang ada di Indonesia didominasi oleh varian Delta.

"Kasus Covid-19 yang diisolasi di Indonesia saat ini 80 persen bersala dari varian Delta," katanya lagi.

Bagaimana mencegahnya?
Menurutnya, hal yang perlu dilakukan tak berbeda, yakni dengan 5M atau mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Kemudian juga surveilans dengan menggunakan testing, tracing, dan treatment (3T).

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved