Mengenal Vaksin Booster, Apakah Hanya Diperuntukkan Bagi Tenaga Kesehatan?

vaksin booster atau penguat vaksin merupakan dosis vaksin tambahan yang bertujuan memberikan perlindungan ekstra terhadap penyakit

Editor: Maskartini
Tribun Pontianak/IstimewaShurfi
Shurfi, satu diantara tenaga medis di Sekadau mendapatkan vaksin booster. 

TRIBUNNEWSWIKI.COM -  Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah merilis Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor: HK.02.01/1/1919/2021 tentang Vaksinasi Dosis Ketiga Bagi Seluruh Tenaga Kesehatan, Asisten Tenaga Kesehatan, dan Tenaga Penunjang yang Bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Menegaskan SE tersebut, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmidzi, mengatakan bahwa vaksinasi dosis ketiga atau vaksin booster hanya diperuntukkan bagi tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung kesehatan.

Adapun tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia diperkirakan berjumlah 1,5 juta orang.

“Kami memohon agar publik dapat menahan diri untuk tidak memaksakan kepada vaksinator untuk mendapatkan vaksin ketiga. Masih banyak saudara-saudara kita yang belum mendapatkan vakssin. Mohon untuk tidak memaksakan kehendak,” ujar dr. Nadia, dilansir dari Kemenkes.

dr. Nadia mengatakan, pemerintah menetapkan penggunaan vaksin Moderna sebagai vaksin booster untuk tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan.

Lebih tepatnya, vaksin Moderna yang akan dipakai sebagai vaksin booster adalah MRNA-1273 yang penyuntikkannya dilakukan secara intramuskular dengan dosis 0,5 ml sebanyak satu dosis.

Bagi yang memiliki alergi dan tidak boleh mendapatkan vaksin MRNA, bisa menggunakan vaksin yang sama dengan dosis pertama dan kedua sebagai booster.

Vaksinasi booster ini mulai dilaksanakan pada 23 Juli 2021 di RSCM Jakarta. Rencananya, kegiatan ini akan dilakukan secara bertahap di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia.

Mengenal vaksin booster
Dilansir Medical News Today, vaksin booster atau penguat vaksin merupakan dosis vaksin tambahan yang bertujuan memberikan perlindungan ekstra terhadap penyakit karena efek dari beberapa vaksin yang dapat menurun seiring waktu.

Vaksin booster umum diberikan pada infeksi virus, seperti tetanus, difteri, dan pertusis (DTaP) yang membutuhkan booster setiap 10 tahun.

Pemberian vaksin booster akan membantu sistem kekebalan mengingat virus penyebab penyakit. Jika tubuh kembali terpapar virus tersebut, antibodi dapat mengenali dan membunuhnya sebelum menyebabkan kerusakan.

Dilansir dari WebMD, penelitian telah menunjukkan bahwa vaksin booster dapat melatih tubuh untuk mengenali bakteri atau virus dan mempertahankan diri.

Bergantung pada jenis vaksin dan produsennya, beberapa vaksin memerlukan booster berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun setelah suntikan pertamanya.

Jessica Justman, Profesor Kedokteran di Columbia Mailman School of Public Health mengatakan, vaksin booster mungkin paling bermanfaat bagi orang dengan kondisi medis tertentu.

“Suntikan (booster) mungkin paling bermanfaat bagi mereka yang memiliki kondisi medis seperti penerima transplantasi organ padat dan orang dengan penyakit autoimun yang mencegah mereka memiliki respons imun yang efektif,” jelas Justman.

Di Indonesia, vaksin booster saat ini baru diperuntukkan bagi tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang telah mendapatkan vaksinasi lengkap.

Pasalnya, peningkatan kasus berat dan kritis di Indonesia mengakibatkan angka kematian meningkat, termasuk dokter dan tenaga kesehatan.

Dilansir dari Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rejeki mengatakan bahwa kematian para dokter dan tenaga kesehatan sejak Maret 2020 hingga Juli 2021 mencapai 1.141 jiwa.

Model booster dianggap sebagai model yang paling baik untuk meningkatkan imun para tenaga kesehatan. Vaksin booster pun dibutuhkan untuk memperkuat antibodi terhadap varian baru.

Studi: Vaksin Booster dari Sinovac Tingkatkan Antibodi 7 Kali Lipat

Vaksin Sinovac yang dijadikan booster (penguat), vaksin yang telah diberikan sebelumnya, dapat meningkatkan antibodi penetralisir yang signifikan.

Dalam studi terbaru Sinovac yang diumumkan Senin 9 Agustus 2021, dipaparkan bahwa vaksin booster CoronaVac buatan Sinovac diberikan kepada lansia yang delapan bulan sebelumnya sudah mendapat dosis kedua.

Diberitakan Global Times, Senin 9 Agustus 2021, studi ini memberi dasar ilmiah yang penting bagi pembuat kebijakan untuk mengembangkan strategi dan rencana pemberian vaksin booster bagi para lansia.

Studi baru ini merupakan bagian dari uji klinis acak, double-blind, terkontrol plasebo, fase 1/2 yang melibatkan 303 peserta sehat berusia 60 tahun ke atas. Penelitian dilakukan di China dan hasilnya dirilis pada hari Minggu di medRvix.

Dipaparkan ahli sebelumnya, enam bulan setelah lansia mendapat dosis kedua vaksin Sinovac, kadar antibodi dalam tubuhnya menurun secara substansial.

Studi tersebut membagi tiga kelompok dengan masing-masing peserta mendapat dosis ketiga vaksin Sinovac 1,5 mikrogram (μg), 3 μg, dan 6 μg. Dosis ketiga ini diberikan delapan bulan setelah suntikan kedua.

Hasilnya menunjukkan, di semua kelompok vaksin dosis 1,5 μg, 3 μg, dan 6 μg, tingkat antibodi meningkat secara signifikan pada hari ketujuh setelah mendapat suntikan ketiga.

Pada kelompok peserta yang menerima vaksin 3μg, yang disetujui untuk penggunaan darurat, rata-rata geometrik titer (GMT) antibodi penetral serum meningkat menjadi 305 pada hari ketujuh setelah dosis ketiga.

Peningkatan ini tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan kadar antibodi pada hari ke 28 setelah dosis kedua.

Selanjutnya, tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat antibodi penetralisir pada kelompok usia yang berbeda (60-64 tahun, 65-69 tahun, 70 tahun ke atas).

Data juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kejadian efek samping.

Reaksi paling umum yang dirasakan para ilmuwan adalah nyeri di tempat suntikan.

"Tidak ada efek samping serius terkait vaksin yang diamati," kata ahli.

Tak hanya pada lansia
Peningkatan kadar antibodi tidak hanya terjadi pada lansia yang diberikan suntikan booster.

Sebuah studi sebelumnya tentang CoronaVac pada orang dewasa berusia antara 18 dan 50 tahun juga menemukan bahwa suntikan booster yang diberikan enam bulan atau lebih setelah suntikan kedua akan menghasilkan peningkatan kadar antibodi yang signifikan.

Para ahli mengatakan bahwa tingkat vaksinasi kelompok yang rendah dan fakta bahwa orang lanjut usia memiliki kasus penyakit dasar yang lebih tinggi dapat menjadi alasan di balik tingginya tingkat pasien yang sakit parah dan kritis.
 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Apa Itu Vaksin Booster?

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved