Mengenal Vaksin Booster, Apakah Hanya Diperuntukkan Bagi Tenaga Kesehatan?

vaksin booster atau penguat vaksin merupakan dosis vaksin tambahan yang bertujuan memberikan perlindungan ekstra terhadap penyakit

Editor: Maskartini
Tribun Pontianak/IstimewaShurfi
Shurfi, satu diantara tenaga medis di Sekadau mendapatkan vaksin booster. 

Vaksin Sinovac yang dijadikan booster (penguat), vaksin yang telah diberikan sebelumnya, dapat meningkatkan antibodi penetralisir yang signifikan.

Dalam studi terbaru Sinovac yang diumumkan Senin 9 Agustus 2021, dipaparkan bahwa vaksin booster CoronaVac buatan Sinovac diberikan kepada lansia yang delapan bulan sebelumnya sudah mendapat dosis kedua.

Diberitakan Global Times, Senin 9 Agustus 2021, studi ini memberi dasar ilmiah yang penting bagi pembuat kebijakan untuk mengembangkan strategi dan rencana pemberian vaksin booster bagi para lansia.

Studi baru ini merupakan bagian dari uji klinis acak, double-blind, terkontrol plasebo, fase 1/2 yang melibatkan 303 peserta sehat berusia 60 tahun ke atas. Penelitian dilakukan di China dan hasilnya dirilis pada hari Minggu di medRvix.

Dipaparkan ahli sebelumnya, enam bulan setelah lansia mendapat dosis kedua vaksin Sinovac, kadar antibodi dalam tubuhnya menurun secara substansial.

Studi tersebut membagi tiga kelompok dengan masing-masing peserta mendapat dosis ketiga vaksin Sinovac 1,5 mikrogram (μg), 3 μg, dan 6 μg. Dosis ketiga ini diberikan delapan bulan setelah suntikan kedua.

Hasilnya menunjukkan, di semua kelompok vaksin dosis 1,5 μg, 3 μg, dan 6 μg, tingkat antibodi meningkat secara signifikan pada hari ketujuh setelah mendapat suntikan ketiga.

Pada kelompok peserta yang menerima vaksin 3μg, yang disetujui untuk penggunaan darurat, rata-rata geometrik titer (GMT) antibodi penetral serum meningkat menjadi 305 pada hari ketujuh setelah dosis ketiga.

Peningkatan ini tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan kadar antibodi pada hari ke 28 setelah dosis kedua.

Selanjutnya, tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat antibodi penetralisir pada kelompok usia yang berbeda (60-64 tahun, 65-69 tahun, 70 tahun ke atas).

Data juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kejadian efek samping.

Reaksi paling umum yang dirasakan para ilmuwan adalah nyeri di tempat suntikan.

"Tidak ada efek samping serius terkait vaksin yang diamati," kata ahli.

Tak hanya pada lansia
Peningkatan kadar antibodi tidak hanya terjadi pada lansia yang diberikan suntikan booster.

Sebuah studi sebelumnya tentang CoronaVac pada orang dewasa berusia antara 18 dan 50 tahun juga menemukan bahwa suntikan booster yang diberikan enam bulan atau lebih setelah suntikan kedua akan menghasilkan peningkatan kadar antibodi yang signifikan.

Para ahli mengatakan bahwa tingkat vaksinasi kelompok yang rendah dan fakta bahwa orang lanjut usia memiliki kasus penyakit dasar yang lebih tinggi dapat menjadi alasan di balik tingginya tingkat pasien yang sakit parah dan kritis.
 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Apa Itu Vaksin Booster?

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved