Batik Indonesia Masuk Pasar Digital Korea Selatan, Ini Alasan Batik Jadi Budaya Warisan Dunia

Batik adalah kain bergambar yang dibuat dengan cara menuliskan atau menggambar menggunakan lilin malam.

Editor: Maskartini
Tribun Jogja
Viral Idola Korea Selatan Kenakan Batik Indonesia. 

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Batik merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Nah, kali ini batik goes to Korea dirintis oleh KBRI Seoul yang secara aktif memperkenalkan produk Batik ke pasar digital Korea Selatan.

“Hari ini Batik resmi memasuki pasar digital Korea Selatan. Setelah proses negosiasi berlangsung secara daring selama 7 bulan, Alhamdulillah hari ini kami berkesempatan menyaksikan penandatanganan perjanjian kerjasama antara PT Wastra Cantik Indonesia (Batik Chic) dan Idus.com," kata Umar Hadi, Duta Besar Republik Indonesia di Seoul dalam keterangan yang diterima, Jumat 9 Juli 2021.

“Harapan kami agar masuknya Batik ke situs komersial daring dapat turut menciptakan kesejahteraan tidak hanya untuk kedua pihak, tetapi juga untuk UMKM lainnya," tegas Dubes Umar Hadi.

Baca juga: PROFIL Priska Yeniriatno, Pemilik Brand Batik Kote Singkawang

Lebih lanjut, Duta Besar menekankan bahwa rampungnya perjanjian kerjasama, adalah suatu landmark agreement antara situs online Korsel dengan UKM Indonesia, merupakan capaian yang patut dibanggakan.

Dari persiapan, negosiasi sampai penandatanganan perjanjian ini seluruhnya dilakukan virtual.

Untuk itu, terbukti bahwa pandemi Covid-19 bukan lah suatu penghalang untuk giat memasarkan ekonomi kreatif ke manca negara.

“Idus.com memutuskan untuk mengenalkan Batik Indonesia di situsnya melalui merek Batik Chic yang memiliki garis rancangan busana yang apik dan simple, tepat mewakili citra wanita Indonesia dan Korsel yang cerdas, cantik, dan berbudaya di abad-21," ungkap Mr Donghwan Kim, CEO Idus.com yang disampaikan oleh Mr Danny Jeon.

“Terima kasih khusus kepada Dubes Umar Hadi dan jajaran KBRI Seoul yang tidak kenal lelah mencari jalan untuk tembus pasar digital Korsel," timpal Novita Yunus, pendiri dan perancang Batik Chic.

Batik goes to Korea diharapkan dapat menjadi perintis penguatan akses produk ekonomi kreatif Indonesia ke pasar Korsel, khususnya menjelang penyelenggaraan World Conference on Creative Economy dan KTT G20 di Indonesia pada 2022.

Selain itu, penyelesaian perjanjian tidak lepas dari kerja keras pihak terkait termasuk Bank Negara Indonesia (BNI) kantor cabang Seoul, sejalan dengan komitmen BNI Pusat untuk terus mendorong UKM Indonesia go global.

Baca juga: Sejarah Hadirnya Batik Kote Singkawang, Priska Pilih Motif Tanaman Endemik Anggrek dan Tengkawang

Alasan Batik Istimewa, Hingga di Nobatkan Sebagai Budaya Warisan Dunia (UNESCO)

Batik adalah kain bergambar yang dibuat dengan cara menuliskan atau menggambar menggunakan lilin malam. Biasanya motifnya memiliki ciri khas sendiri di setiap daerah yang berbeda.

Batik ternyata sudah ada sebelum munculnya kerajaan Surakarta. Bahkan saat zaman kerajaan Majapahit pun sudah ada, lo.

Wah, berarti batik sudah ada sejak lama dan masih terus diwariskan secara turun-menurun hingga saat ini, ya.

Tidak heran kalau batik dinobatkan sebagai salah satu dari Warisan Kebudayaan Dunia oleh UNESCO.

Namun, sebenarnya hal apa yang membuat batik menjadi sangat istimewa hingga dikukuhkan sebagai warisan kebudayaan dunia?

Kita cari tahu, yuk!

Sejak 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik tulis sebagai salah satu warisan dunia.

Dilansir dari situs UNESCO, teknik, simbolisme, dan budaya terkait batik dianggap melekat dengan kebudayaan Indonesia.

Bahkan, UNESCO menilai masyarakat Indonesia memaknai batik dari prosesi kelahiran sampai kematian.

Batik juga menjadi gambaran dari keberagaman budaya di Indonesia, yang terlihat dari sejumlah motifnya.

Karena keunikannya inilah yang membuat batik tidak hanya menarik bagi masyarakat Indonesia, tapi juga berbagai masyarakat diberbagai negara lainnya.

Bahkan batik sudah beberapa kali diperkenalkan sebagai budaya Indonesia ke berbagai negara, lo.

Selain itu, batik juga merupakan salah satu karya seni yang bernilai tinggi dari Indonesia.

Wah, tentunya ini menandakan kita sebagai masyarakat Indonesia harus selalu bangga pada batik, ya!

Untuk mengenal lebih jauh tentang pusaka Nusantara ini, dikutip dari Kompas.com berikut ulas ragam motif batik dari beberapa daerah di Tanah Air.

1. Batik Betawi

Batik Betawi memang tak sepopuler batik Yogyakarta, Solo, ataupun Pekalongan. Namun, kekayaan ragam motif batik

Betawi tak bisa diabaikan begitu saja. Dari segi warna, batik Betawi biasanya menggunakan warna-warna cerah, seperti hijau, merah, dan biru.

Lalu, untuk corak, batik Betawi kebanyakan terinspirasi dari nilai-nilai budaya yang terdapat di masyarakat. Diberitakan

Kompas.com, Senin 2 Oktober 2017, batik Betawi memiliki motif kuno yang meliputi motif nusa kelapa, motif ciliwung, motif rasamala, motif salakanegara, motif pucuk rebung, dan motif ondel-ondel.

Sayangnya, kini motif batik Betawi tersebut sudah sulit ditemui. Satu-satunya motif batik Betawi kuno yang masih bertahan adalah motif ondel-ondel. Dari sisi makna, motif ondel-ondel melambangkan

tolak bala. Selain motif kuno, batik Betawi juga menghadirkan ragam motif modern yang meliputi motif monas, kembang kelapa, dan bahkan motif TransJakarta.

2. Batik Yogyakarta

Yogyakarta menjadi salah satu daerah penghasil batik paling populer di Indonesia. Selain itu, daerah yang dijuluki

kota budaya ini juga memiliki ragam motif batik yang penuh makna dan biasanya masing-masing motif hanya digunakan pada momen-momen tertentu.

Beberapa motif batik Yogyakarta yang akrab ditemui di antaranya motif ceplok, motif truntum, motif parang, motif nitik, dan motif kawung.

Ambil contoh motif kawung. Pada motif ini, tergambar empat lingkaran berbentuk elips yang mengelilingi lingkaran kecil sebagai pusat.

Lingkaran elips tersebut disusun memanjang menurut garis diagonal miring ke kiri atau ke kanan berselang-seling. Adapun inspirasi motif ini berasal dari buah aren yang dibelah dua.

Tak sekadar gambar, motif tersebut ternyata punya makna yang dalam, yaitu menunjukkan empat arah angin dengan lambangnya masing-masing.

Di sisi timur terdapat matahari terbit yang melambangkan sumber kehidupan, utara ada gunung yang berarti tempat tinggal para dewa, barat merupakan arah matahari terbenam yang melambangkan turunnya keberuntungan, dan selatan terdapat zenit yang memiliki makna puncak segalanya.

Dahulu kala, motif kawung kerap dikenakan oleh sentana dalem (orang yang memiliki hubungan keluarga dengan raja) di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Seiring perkembangan zaman, batik ini jamak digunakan oleh masyarakat luas.

3. Batik Solo

Tak jauh dari Yogyakarta, terdapat Kota Solo yang juga memiliki sejarah panjang terhadap batik.

Meskipun banyak yang mengira motif dan corak batik kedua daerah ini sama, ternyata anggapan ini tak sepenuhnya benar. Dari sisi corak, batik Solo

cenderung menggunakan warna cokelat atau gelap sebagai background. Tentu ini berbeda dengan batik Yogyakarta yang menggunakan putih sebagai warna dasar.

Perbedaan kedua ada pada motif. Diberitakan Kompas.com, Selasa 3 Oktober 2017, meskipun masih sama-sama mempertahankan desain baku dari keraton, ada hal berbeda yang mendasar. Misalnya pada motif parang, batik

Yogyakarta menggambarkan parang dari sisi kanan atas ke kiri bawah. Pada batik Solo, motif parang digambarkan dari kiri atas ke kanan bawah. Motif batik Solo pun tak hanya sebatas motif parang, terdapat banyak motif dengan ragam makna, seperti motif

sidomukti yang melambangkan kesejahteraan, motif truntum yang bermakna cinta tumbuh kembali, motif satrio manah yang biasanya digunakan untuk lamaran, dan ragam motif lainnya.

4. Batik Semarang

Bergeser ke utara Jawa Tengah, terdapat Kota Semarang yang juga memiliki bermacam-macam motif batik. Bila dilihat dari sisi corak dan warna, batik Semarang memiliki perbedaan jauh dibandingkan batik Yogyakarta dan Solo.

Batik Semarang cenderung menggunakan warna-warna cerah dan corak yang tidak begitu padat. Dari segi motif, batik Semarang memiliki ciri khas

perpaduan batik pesisir dengan budaya percampuran masyarakat Tionghoa. Motif khas pesisir di antaranya pola flora dan fauna yang

meliputi motif burung merak, kupu-kupu, bangau, cempaka, mawar, dan burung blekok. Tak hanya itu, batik Semarang juga memiliki ragam motif ikon Semarang masa kini, seperti Lawang Sewu, Tugu Muda, dan asam.

5. Batik Cirebon

Berbicara tentang batik pesisir, tampaknya tak hanya batik Semarang saja yang populer di kalangan masyarakat.

Sebab, ada batik Cirebon yang terkenal dengan motif megamendung, motif pincuk, motif kereta kencana, dan motif lereng.

Sama seperti batik Semarang, batik Cirebon juga menggunakan warna cerah sebagai latar dan kebanyakan motifnya terinspirasi dari kondisi alam sekitar.

Salah satu hal yang membedakan batik Cirebon dengan batik dari daerah lain di Indonesia adalah proses pembuatannya, terutama bagian pewarnaan.

Para seniman batik di Cirebon menyebut proses pewarnaan batik mereka dengan istilah pengobatan.

Ini dilakukan dengan cara meletakkan kain di sebuah alat yang bernama alat pengobatan. Alat ini berbentuk seperti timbangan yang digunakan dengan menggoyangkan ke sisi kanan-kiri agar pewarna menyerap sempurna.

Pesona batik Nusantara memang tak hanya sebatas lima daerah yang telah disebutkan. Namun, kelima daerah ini bisa mewakili betapa kaya dan beragamnya jenis batik di Tanah Air.

Sebagai generasi penerus bangsa, seyogianya kita menjaga dan melestarikan harta warisan batik dengan baik.

Salah satu caranya, dengan bangga memakai batik asli Indonesia. Selain itu, Anda bisa pula mengikuti kontes foto dan video #BatikItuAsyik dari

Artikel ini telah tayang di TribunStyle dengan judul Batik Indonesia Tembus Pasar Digital Korea Selatan

Sumber: TribunStyle.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved