Sejarah Penemuan Virus, Tidak Dimulai dari Ilmu Kedokteran

studi tentang virus membutuhkan waktu beberapa dekade hingga disepakati bahwa keberadaan mereka nyata

Editor: Maskartini
Tribunnews
Ilustrasi virus. 

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Virus merupakan kumpulan patogen berbahaya yang menyebabkan penyakit, seperti virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab munculnya Covid-19.

Namun sebenarnya, studi tentang virus membutuhkan waktu beberapa dekade hingga disepakati bahwa keberadaan mereka nyata.

Dilansir dari Smithsonian Magazine, 24 Maret 2020, penemuan tentang virus tidak dimulai dari ilmu kedokteran, tapi berkat botani atau studi tentang tanaman.

Pada tahun 1857, para petani Belanda melaporkan penyakit yang menyerang tanaman bernilai penting secara ekonomi, yaitu tembakau.

Penyakit tersebut mengubah daun tembakau menjadi berwarna hijau tua berbintik-bintik, kuning, atau abu-abu. Akibatnya, petani menjadi kehilangan 80 persen tanaman di ladang mereka.

Meskipun telah ditanami tanaman yang sama berulang kali, tapi hal yang sama selalu terulang kembali. Menurut catatan, penyakit pada tanaman tembakau ini menyebar dengan cepat.

"Jika Anda berada di rumah kaca atau kebun dan menyirami tanaman dengan selang, saat selang menyentuh tanaman yang kena penyakit maka tanaman di sebelahnya bisa rusak," kata Karen-Beth Scholthof, Ahli Virologi Tanaman dari Texas A&M University.

Baca juga: SEJARAH Berdiri YouTube, Dulu Situs Kencan Online Segini Penghasilannya Pasca Diakuisisi Google

Kemudian baru pada tahun 1879, ahli patologi tanaman Adolf Mayer, mulai meneliti penyakit ini. Dia kemudian menamai penyakit tersebut dengan istilah mosaik tembakau.

Ia menggunakan pedoman Koch - Ahli Patologi Jerman yang menemukan bakteri tuberkulosis dengan melakukan serangkaian isolasi kuman dan infeksi ulang untuk mengetahui penyebabnya.

Namun dalam penelitiannya, Mayer mengalami masalah. Ia tidak dapat menghasilkan kultur patogen yang murni dan tidak dapat mengetahui penyebabnya melalui mikroskop.

Selanjutnya pada tahun 1887, Ahli Botani, Dmitri Ivanovski, juga meneliti terkait mosaik pada tembakau di Krimea dengan pendekatan yang berbeda.

Ivanovski menyaring getah melalui saringan halus yang terbuat dari porselen tanpa glasir dengan celah sangat kecil untuk dimasuki bakteri.

Ia menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh toksin yang masuk melalui saringan atau bakteri yang menyelip melalui celah.

Berdasar penelitian yang telah ada sebelumnya, Martinus Beijerinck yang seorang ahli mikrobiologi dari Belanda, secara independen melakukan eksperimen yang hampir sama dengan Ivanovski namun menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Beijerinck menambahkan filtrasi kedua dengan menggunakan gelatin yang disebut agar-agar untuk membuktikan tidak ada mikroorganisme yang bertahan dari filtrasi pertama.

Bakteri ditemukan terjebak dalam gelatin tetapi patogen misterius penyebab mosaik menyebar melaluinya.

Dengan menyaring ulang patogen dari daun yang terinfeksi dan menggunakannya untuk menyebabkan penyakit mosaik pada tanaman lain, ia menunjukkan bahwa agen tersebut dapat menyebar tanpa mengurangi kekuatan penyebab penyakitnya.

Ia membuktikan bahwa agen penyakit bergantung pada daun yang tumbuh untuk berkembang biak dan tidak bisa berkembang tanpa mereka.

Temuannya diterbitkan pada tahun 1898 dengan sebutan cairan hidup yang menular atau dalam bahasa latin disebut contagium vivum fluidum dan disingkat menjadi kata "virus".

“Beijerinck menyiapkan eksperimen dan memercayai apa yang dia lihat. Cara kami menggunakan (kata) virus hari ini, dia adalah orang pertama yang membawa istilah itu kepada kami dalam konteks modern dan saya akan memberinya penghargaan untuk awal virologi," kata Scholthof.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved