Waspadai, 7 Kebiasaan Buruk yang Merusak Fungsi Otak

Menurut para ahli, gaya hidup modern mempengaruhi jalur saraf dan membuat kita lebih lambat serta kurang mampu untuk berpikir orisinal

Kompas.com
Ilustrasi Fungsi Otak 

TRIBUNPONTIANAKWIKI.COM- Kebiasaan gaya hidup sangatlah mempengaruhi kesehatan kognitif kita.

Untuk itu, sekecil apapun usaha untuk mengubah kebiasaan buruk kita tentunya akan memberikan perubahan terhadap fungsi otak kita.

Di era teknologi seperti saat ini, kita semua seolah dituntut untuk melakukan banyak hal yang sebetulnya dapat merugikan otak kita.

Menurut para ahli, gaya hidup modern mempengaruhi jalur saraf dan membuat kita lebih lambat serta kurang mampu untuk berpikir orisinal.

Baca juga: Tanda Kamu Perlu Break Dari Media Sosial

Hiperkonektivitas semakin berdampak pada otak. Pada akhirnya, kita menjadi kurang produktif dan kurang efektif.

Untuk menjadi individu yang produktif, kita perlu melakukan lebih banyak kebiasaan yang dapat meningkatkan kesehatan otak kita, dan lebih sedikit melakukan kebiasaan yang menyebabkan penurunan kognitif.

Setidaknya, ada tujuh kebiasaan buruk yang perlu dihindari karena dapat menurunkan fungsi otak kita, seperti dilansir Insider.

1. Tidak aktif secara fisik
Ketidakaktifan dapat menyebabkan masalah kesehatan kronis seperti penyakit jantung, obesitas, depresi, demensia, dan kanker.

Banyak orang terlalu sibuk untuk hanya melakukan aktivitas gerakan dasar, yang dapat memperlambat penurunan kognitif.

Menurut sebuah penelitian di Journal of Comparative Neurology yang menunjukkan hubungan antara ketidakaktifan dan penurunan mental, tidak aktif secara fisik (sedentary) dapat mengubah bentuk neuron tertentu di otak.

Aktivitas fisik secara teratur dapat menguntungkan kita secara kognitif dan secara medis, karena dapat meningkatkan zat kimia otak untuk meningkatkan memori dan kemampuan belajar pembelajaran dengan lebih baik.

2. Sering multitasking
Ponsel menjadi pisau bermata dua. Kita menggunakannya sepanjang waktu, baik untuk mendukung pekerjaan maupun pendidikan, atau pun sebagai sarana hiburan.

Kondisi ini membuat banyak orang melakukan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking).

Kamu mungkin pernah mendengar bahwa multitasking berdampak buruk bagi produktivitas serta merupakan kebiasaan yang dapat mengubah otak dan membuat seseorang kurang efektif.

Seorang ahli saraf dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Earl Miller mengatakan bahwa otak kita tidak bisa terhubung dengan baik terhadap banyak tugas.

Baca juga: Cara Membuat Roti Putih Jadi Menu Makanan yang Lebih Sehat

Ketika orang-orang mengira mereka mampu melakukan banyak tugas, mereka sebenarnya hanya beralih dari satu tugas ke tugas lain dengan sangat cepat.

Selain itu, setiap kali mereka melakukannya, ada konsekuensi kognitif yang menyertai.

"Multitasking juga meningkatkan hormon stres kortisol serta hormon fight or flight (melawan-atau-lari) adrenalin, yang dapat merangsang otak secara berlebihan dan dapat menyebabkan kabut mental atau pemikiran yang kacau," katanya.

3. Luapan informasi menyebabkan stimulasi otak berlebih
Banyaknya jumlah email, notifikasi media sosial, dan notifikasi lainnya yang kita terima bisa sangat membebani hari seseorang.

Aliran konten yang deras secara konstan jika tidak dikelola drngan baik dapat menyebabkan stres dan pengambilan keputusan yang berlebihan.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved