Komunitas SADAP, Ruang Lintas Generasi Anak Muda Menyatukan Perbedaan

Membahas hal menarik tentang berbagai kegiatan komunitas SADAP dan juga prestasi yang pernah mereka raih.

File Tribun Pontianak
Podcast Bebincang Komunitas 

TRIBUNPONTIANAKWIKI.COM- Berkumpulnya wadah para anak muda yang disebut 'Satu dalam Perbedaan' (SADAP), menjadi jembatan mereka dalam mewarnai segala bentuk perbedaan yang ada.

Hadir di Triponcast (Tribun Pontianak Official Podcast), dua narasumber yakni Tarida Manullang sebagai Bendahara Umum dan Rio Pratama sebagai Kepala Divisi Program.

Podcast kali ini masuk dalam program Bebincang Komunitas.

Baca juga: Komunitas Fotografi Asal Pontianak, Berikan Edukasi Modern Ala Milenial

Membahas hal menarik tentang berbagai kegiatan komunitas SADAP dan juga prestasi yang pernah mereka raih.

Tarida dan Rio juga memperkenalkan komunitasnya yang terbentuk karena ramainya isu SARA dan politik.

Komunitas ini terbentuk sejak tahun 2017 yang dilatarbelakangi perbedaan namun sering dijadikan batasan tanpa mengenal dan menghargai kebudayaan, suku, agama dan ras yang ada.

"identitas yang berkembang belakangan ini sudah jauh lebih baik dalam melihat perbedaan, ada sejumlah pemuda lintas daerah yang percaya bahwa Indonesia masih bisa menjadi rumah bagi semua orang tanpa batas suku maupun agama," sebut Rio.

Dengan demikian, mereka berkumpul dalam ruang yang dinamai Satu dalam Perbedaan (SADAP).

Baca juga: Berkenalan Dengan Komunitas Kucing Kalbar, Borneo Cat

Melalui media sosial, dijadikan sebagai alat kampanye untuk merawat keberagaman.

Secara berkala mereka melakukan kampanye melalui tulisan serta video dengan tema merawat keberagaman di Indonesia.

SADAP yang memiliki anggota dari berbagai latar belakang agama, suku dan etnis merupakan representasi dari kemajemukan di negeri ini.

Anggotanya tersebar di berbagai daerah, mulai dari Semarang, Jogya, Bandung, Jember, dan Pontianak.

Tarida menyebutkan, tujuan dibentuknya SADAP adalah sebagai wadah untuk merawat keberagaman di Indonesia serta membuka ruang dialog antar- latar belakang agar tercipta suasana yang lebih harmonis serta mampu menerima keberagaman di Indonesia.

"Tujuan kita memang mengajak anak muda untuk paham dulu, apa itu keberagaman. Disitu kita memperkenalkan satu diantara program unggulan kita yaitu Temu Pemuda Lintas Iman (Tepelima). Kegiatan ini merangkul seluruh anak muda yang mau bergabung agar bisa keluar dari zona nyaman terhadap banyaknya stigma buruk tentang adat dan budaya orang lain. Sehingga kita menjadikan momen ini untuk saling mengenal, mengedukasi dan menghargai suku lain," papar Tarida.

Mereka juga melakukan kampanye dengan sederhana, merekam keberagaman yang mereka temui sehari-hari melalui video dan mengabadikannya melalui tulisan.

Oleh sebab itu, sikap saling menghargai antar latar belakang perlu dihadirkan kembali serta terus dipupuk dengan berbagai cara agar persatuan yang dulu jadi ciri khas bangsa Indonesia dapat hadir kembali,

Lanjut Rio, hidup dengan rukun, aman dan tentram harus menjadi kekuatan bangsa Indonesia untuk tetap bergerak maju.

Baca juga: Komunitas POPTI Kalbar Dukung Pemutusan Mata Rantai Thalasemia di Indonesia

Memperkenalkan budaya itu mudah, namun mempertahankan sikap toleran itu yang sulit, khususnya bagi anak muda sekarang.

Sehingga dirinya yakin, bahwa anak muda bangsa Indonesia bisa terus berusaha memberikan impact yang positif agar bisa dikenal dengan baik oleh seluruh masyarakat di seluruh dunia.

"Kami juga telah mendapatkan Champion Award kategori Komunitas Muda yang diselenggarakan dengan kerjasama Yifos Indonesia bersama Koalisi Indonesia untuk Keberagaman dan Seksualitas (KITASAMA)," ujarnya.

Karya-karya mereka dapat dilihat di Instagram @sadapindonesia , YouTube SADAP Indonesia, Fanspage SADAP Indonesia. (mod)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved