Utin Ririn Mardiyah al-Anshari

Utin Ririn Mardiyah al-Anshari yang akrab disapa Rien al-Anshari adalah produser, dan penulis asal Kota Pontianak

Tribun Pontianak/Istimewa/Rien
Rien al-Anshari adalah pasangan produser, sutradara dan penulis asal Kota Pontianak. 

Makalahnya terseleksi dan dipresentasikan dalam Konferensi International Film Indonesia yang berlangsung di Institut Seni Indonesia, Surakarta 2019 serta menjadi pengembangan makalah tertulis dalam kurasi Kajian Data Perfilman, Pusat Pengembangan Film, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2019,

Saat ini, Rien al-Anshari juga tengah menyelesaikan novel pertamanya (sementara berjudul: Millenial dan Hal Remeh Temeh) yang mengkritik sudut pandang Millenial dalam komparasinya pada perkembangan jaman.

Ia juga sedang mengerjakan terjemahan novel milik F Scott Fitzgerald berjudul The Great Gatsby yang juga disertakan dengan kajian pembacaan struktur penceritaan, yang menurutnya penting untuk diketahui oleh banyak penulis dan calon penulis Indonesia yang seringkali kebingungan memahami perspektif pada pengembangan naskah mereka sendiri.

Hevi Putriani

Kemudian, bersama partner dan pasangan hidupnya, Angkasa Ramadhan, di Pontianak, sepanjang Juni dan Juli 2020 ini Ia membuka Kelas ARATE: Seni Peran, Narasi dan Pengkarakteran dalam upaya mengembangkan bakat-bakat kepenulisan dan keaktoran yang dimiliki oleh kota kelahiran mereka ini.

Di ARATE, pada tahapan paling awal, Rien al-Anshari dan Angkasa Ramadhan mencoba memperkenalkan pendekatan metode stanilavsky dan strassberg dalam seni peran, serta memberi gambaran mengenai produksi film dalam sebuah industri.

Angkasa Ramadhan adalah pasangan produser, sutradara dan penulis.
Angkasa Ramadhan adalah pasangan produser, sutradara dan penulis. (Tribun Pontianak/Istimewa/Rien)

Rien al-Anshari dan Angkasa Ramadhan mendirikan Kembang Layar Indonesia, sebagai rumah produksi berbasis pengembangan cerita rakyat dan mitos yang pada mulanya berkiblat pada pola bertutur masyarakat Melayu baik dalam bersenandung dan membangun cerita.

Pasangan ini percaya film dan cerita yang berdiri dari karakter dan ikatan struktural masyarakatnya tidak hanya akan menjadi sebuah hiburan, melainkan juga meninggalkan kesan yang tertanam kuat dan lama dalam benak penontonnya.

Cristina Novilia

Produksi pertama Kembang Layar Indonesia dilakukan pertama kali di tahun 2018, berjudul “Datok” (The Elder) bekerja sama dengan beberapa talenta lokal seperti Meme Daeng, Ati Ratnasari dan Syarif Muhammad Iqbal serta pekerja produksi lokal.

Pasangan ini bercita-cita ingin memperkenalkan khasanah Melayu dalam pendekatan metode bertutur yang sebelumnya pernah berjaya baik dalam dunia sastra dan perfilman Nasional.

Meski tantangan terbesar yang mereka hadapi saat ini adalah meningkatkan kualitas talenta dan pekerja produksi lokal agar dapat bersaing dan diakui oleh industri nasional dan internasional.

Sani Safitri Sofian

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Maskartini
Editor: Maskartini
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved