Sejarah Komunitas Melayu Bugis Parewabessi Club

perkumpulan pusaka Melayu Bugis ini keberadaannya pertama kali ada di Kota Pontianak

Sejarah Komunitas Melayu Bugis Parewabessi Club
Tribun Pontianak/Istimewa/Parewabessi Club
Komunitas Melayu Bugis Parewabessi Club saat meminta restu ke Sultan Pontianak. TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA 

TRIBUNNEWSWIKI, PONTIANAK - Komunitas Melayu Bugis Parewabessi Club (MBPC) merupakan perkumpulan Melayu Bugis yang ingin untuk mengangkat kembali pusaka benda keturunan seperti pusaka juga banyak dimiliki oleh masyarakat Kalbar.

Komunitas ini juga menggali dan memperkenalkan sejarah serta keunikan dari pusaka yang ada.

Ketua Perkumpulan Pusaka Melayu Bugis, Wak Long Mat Boceng mengatakan perkumpulan pusaka Melayu Bugis ini keberadaannya pertama kali ada di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

"Berawal dari hobi sesama pecinta pusaka, sejumlah masyarakat Melayu Bugis berusaha untuk melestarikan budaya lewat pusaka. Perkumpulan ini akhirnya menjadi sebuah ikatan komunitas dimana masyarakat. Dengan tekad yang bulat dan keinginan tersebutlah bakhirnya terbentuk MBPC (Melayu Bugis Parewabessi Club), " ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id.

Untuk pusaka sendiri, Wak Long mengatakan ada banyak hal didalam pusaka yang harus kita ketahui, khususnya bagi pemilik atau empunya.

Seumpamanya cara perawatan atau pembersihan pusaka, adab dalam memegang pusaka, atau bahan pusaka hingga bercerita bagaimana pusaka itu di dapatkan.

Ia juga berkeinginan untuk melestarikan pusaka bukan hanya dalam bentuk mistis yang sering diketahui oleh masyarakat, tetapi lewat sejarah bahwa masyarakat Melayu Bugis memiliki benda khusus yang disebut pusaka etnik dan mengetahui apa sejarah serta filosofinya.

"Selain itu juga, kita bisa mengenal pamor pusaka yang biasa disebut dengan "sisiq", karena antara pusaka satu dengan yang lain memiliki pamor yang berbeda, perlakuan terhadap pusaka, baik buruknya pusaka, cocok atau tidak pusaka tersebut dengan pemiliknya, dan banyak lagi yang harus diketahui," terangnya.

Wak Long menilai, saat ini sudah jarang sekali orang yang peduli dan mau merawat barang pusaka dengan berbagai alasan. Padahal, setiap pusaka mempunyai cerita, bahkan sejarah.

"Tak jarang juga ada diantara kita memiliki pusaka, tapi bahasa melayunye tak kuase nak ngurosnye. Inilah yang cobe kami angkat, agar kite lebih peduli menjaga pusaka. Karena jika tidak, bisa saja kita kehilangan barang sejarah, kehilangan budaya, kehilangan warisan leluhur kita," ujarnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Maskartini
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved